Header Ads

Bagaimana Kamu Menyikapi Perubahan saat Investasi Reksa Dana?

Image result for saham

JakartaPada saat riset tersebut diterbitkan, IHSG sudah mengalami penurunan beberapa hari sebelumnya. Penurunan IHSG berlangsung hingga hari Jumat 15 Februari 2019 ke 6.389. Bahkan muncul spekulasi yang beredar bahwa bisa turun ke level 5.000an. 

Beberapa tenaga pemasar dan investor reksa dana menghubungi saya melalui WA menanyakan mengenai dampak dari riset perusahaan sekuritas tersebut. Sebab ada kekhawatiran IHSG akan turun dalam sebagaimana yang dispekulasikan. Namun apa yang terjadi? 

Pembicaraan kesepakatan terkait perang dagang berlangsung dengan baik walaupun masih belum diketahui akhirnya akan seperti apa. Kicauan dari Presiden AS diinterprestasikan sebagai tanda bahwa pembicaraan berlangsung dengan positif. 

Dalam waktu yang begitu singkat, tiba-tiba pada hari Senin, 18 Februari, IHSG mengalami kenaikan 1,8 persen ke level 6.497. Kekhawatiran akan riset perusahaan asing tersebut hilang walaupun asing masih lebih banyak menjual kepemilikan sahamnya pada hari tersebut.

Nasabah bahkan bertanya kepada saya kembali mengapa riset perusahaan sekuritas tersebut tidak berpengaruh? Menurut saya bukan tidak berpengaruh. Saat terbit, pengaruhnya ada, tetapi begitu ada berita lain masuk, fokus pasar pindah pada hal yang itu. 

Lagipula sudah sejak 2-3 tahun terakhir, pembelian dan penjualan saham oleh investor asing bukan lagi satu-satunya yang berdampak terhadap IHSG. Bisa saja asing beli IHSG tetap turun, sebaliknya asing jual IHSG terus naik. 

Mengacu pada berita referensi berita di atas, terdapat juga perusahaan sekuritas asing yaitu JP Morgan yang memberikan rekomendasi untuk berinvestasi di Indonesia. Keduanya merupakan perusahaan sekuritas besar dengan reputasi internasional.

Rekomendasi yang berlawanan bukanlah hal aneh di industri pasar modal. Terkadang investor juga punya pemikiran sendiri sehingga belum tentu mengikuti rekomendasi yang diberikan. Contoh perubahan lain yang mungkin akan mulai tren untuk beberapa waktu ke depan adalah perubahan dari kebijakan bank sentral. 

Saya ingat, sampai dengan akhir tahun lalu, kebanyakan bankir, ekonomi, analis dan ahli di pasar modal lainnya masih memperkirakan bahwa BI Rate berpeluang naik di 2019 ini karena suku bunga Amerika Serikat masih akan naik setidaknya satu kali.

Namun apa yang terjadi, satu per satu data-data perekonomian AS yang dipublikasikan menunjukkan bahwa kesehatannya semakin memburuk. Kesehatan kondisi perekonomian biasanya menjadi salah satu acuan dari bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga.

Akhirnya pada sekitar akhir Januari 2019, akhirnya Bank Sentral AS mulai mengubah nadanya akan kebijakan suku bunga. Dari naik 1 kali menjadi lebih tidak agresif. Bahkan para pelaku ada yang memperkirakan bahwa ada peluang suku bunga diturunkan pada akhir tahun. 

Dalam konteks investasi reksa dana terutama yang berbasis obligasi (reksa dana pendapatan tetap), bunga mau naik atau turun adalah perihal yang amat penting. Secara teori, jika suku bunga naik maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. 

Sebagai pengelola dana dan investor, tentu saja mengharapkan bahwa suku bunga tetap atau turun. Namun jika Bank Sentral AS menaikkan tingkat bunga, sehingga Bank Sentral Indonesia (BI) juga harus merespon dengan menaikkan tingkat bunga, tentu kinerja dan hasil investasi akan terpengaruh.

Hal ini dialami pada tahun 2018 lalu,  yang mana terjadi kenaikan tingkat suku bunga di Amerika Serikat dan Indonesia sehingga hasil investasi reksa dana pendapatan tetap yang konservatif sekalipun tetap membukukan kinerja yang negatif.

Sejak beberapa minggu terakhir, sudah hampir tidak ada lagi berita yang membahas tentang potensi kenaikan bunga. Analis, ekonom dan ahli pasar modal lainnya mulai mengubah nada untuk tren suku bunga di 2019, dimana perkiraannya bisa tetap atau bahkan turun seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang semakin baik. 

Perubahan dan fluktuasi harga yang menyertai perubahan tersebut merupakan bagian risiko yang tidak terpisahkan dalam berinvestasi di pasar modal dan reksa dana. Risiko ini akan berdampak buruk dan negatif, apabila sebagai investor kita terlalu reaktif dengan semua berita yang muncul dan berorientasi jangka pendek. 

Investasi di reksa dana adalah investasi jangka panjang. Memang tidak dapat dipungkiri ada tahun-tahun dimana kinerja investasi reksa dana kurang baik, namun jika investor cukup sabar dan memberikan kesempatan dan waktu yang cukup kepada para manajer investasi untuk menjalankan strateginya, kinerja pada tahun yang buruk bisa terbayar pada saat tahun yang baik. 

Risiko ini akan berdampak baik dan positif, apabila investor berorientasi jangka panjang dan melihat penurunan sebagai kesempatan untuk melakukan top up (penambahan). Tidak mungkin harga saham dan obligasi naik terus menerus tanpa henti dan sebaliknya. Memiliki orientasi jangka panjang dan disiplin dalam melakukan investasi berkala serta pikiran yang positif merupakan kunci untuk menghadapi perubahan dalam investasi reksa dana. 

Semoga bermanfaat... 


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh compassandcamera. Diberdayakan oleh Blogger.