Header Ads

Tanah Bergerak Setiap 30 Menit, Warga Banyumas Terbayang Longsor Masa Lalu


Nasional - Menilik riwayatnya, Banjarnegara diwarnai kisah pedih longsorkolosal. Dan 70 persen wilayah di kaki pegunungan Dieng ini memang rawan gerakan tanah.

Bencana longsor seringkali mengejutkan terjadi di Banjarnegara. Pada 2006, Dusun Gunung Raja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu lenyap dalam sekejap. Ada 76 orang meninggal dunia, 14 lainnya tak ditemukan.

Kemudian, empat tahun lalu, Dusun Jemblung Desa Sampang Karangkobar luluh lantak diterjang longsor. Seratusan lebih warganya meninggal dunia atau hilang tertimbun material longsoran.

Hingga saat ini, longsor dan gerakan tanah berkala kecil dan besar datang silih berganti. Salah satunya di Dusun Kali Entok Desa Kebutuh Jurang Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara.

Gerakan tanah yang terjadi secara bertahap dilaporkan merusak 22 rumah. Akibatnya, 25 keluarga yang terdiri dari 83 jiwa mengungsi.

Dan ke-25 keluarga itu mengungsi di 11 titik pengugsian. Sebagian besar mengungsi ke rumah saudara, atau ditampung tetangga, dan di tetangga desa, Duren.

"Jadi sekarang masih mengungsi. Kalau kita tahapannya sedang validasi data. Kalau jumlahnya masih seperti kemarin," kata Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) BPBD Banjarnegara, Arif Rachman, Kamis sore, 21 Februari 2019.

Kisah longsor besar yang sampai menewaskan puluhan hingga ratusan orang membuat warga Kebutuh Jurang trauma. Positifnya, riwayat bencana Banjarnegara membuat mereka waspada.

Arif tak menyalahkan warga yang traumatik. Hanya saja, berdasar pendataan lapangan oleh petugas BPBD dan pemerintah desa Kebutuh Jurang, jumlah rumah rusak sebenarnya hanya 15 unit. Lainnya baru terancam longsor.



Berdasar kajian geologi dan pemetaan longsor, tujuh rumah yang penghuninya turut mengungi sebenarnya berada di luar zona merah. Karenanya, pekan ini BPBD akan mensosialisasikan kepada para pengungsi agar yang rumahnya masih aman bisa kembali ke rumahnya.

Adapun 15 rumah yang terdampak langsung dan terancam agar bertahan di pengungsian untuk sementara waktu.

"Pekan ini kami akan mengumpulkan untuk memberi penjelasan. Bagi yang kondisinya masih ini (relatif) aman, disarankan pulang, karena hanya euforia ketakutan ya lebih baik pulang lah," dia menerangkan.

Rencananya, dalam waktu dekat hasil kajian geologi, pemetaan dan rekomendasi Badan Geologi itu akan dilaporkan kepada Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono untuk segera ditindaklanjuti.

"Pertama, rumah yang terdampak langsung, begitu kan, jumlahnya ada sekitar 15 rumah. Karena kita sudah ada peta geologinya yang akan kita laporkan kepada Pak Bupati," dia menambahkan.

BPBD juga telah memasang early warning system (EWS) atau alat peringatan dini longsor dan gerakan tanah di mahkota longsoran. BPBD juga mendirikan posko pantau bencana di sekitar area gerakan tanah untuk memantau pergerakan tanah untuk mengantisipasi gerakan tanah yang membahayakan.

Dia menjelaskan, sifat longsoran di Kebutuh Jurang adalah rayapan tanah (creep). Akan tetapi, menilik kontur tanahnya yang curam dan curah hujan tinggi, gerakan tanah bisa bertambah cepat dan bisa pula bersifat jatuhan.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh compassandcamera. Diberdayakan oleh Blogger.