Header Ads

Senja Kala dan Akhir Nasib Jumbo Jet Airbus A380

Image result for AIR BUS a380

Jakarta - Sejak Airbus menghentikan produksi pesawat A380, maka inilah masa senja kala jumbo jet. Traveler cinta, tapi kalau maskapainya tidak, mau bagaimana lagi.

Airbus menerima pesanan pesawat A380 yang terakhir untuk maskapai Emirates. Pesawat pamungkas itu akan dikirim pada 2021 nanti.

Maskapai-maskapai Eropa beralih ke pesawat yang lebih kecil karena tuntutan konsumen yang mulai bergeser. Dari pesawat super besar, mereka beralih ke pesawat yang lebih kecil, efisien dan irit bahan bakar.

Pesawat berbadan lebar Boeing juga sedang di senja kalanya. Hanya enam unit yang dikirim pada 2018.

"Sudah jelas bahwa era pesawat komersial yang besar dengan empat mesin akan segera berakhir," kata CEO Airbus Tom Enders.

Pesawat besar dulunya digadang sebagai masa depan dunia penerbangan. Boeing telah mengirimkan lebih dari 1.500 pesawat B747 sejak penerbangan perdananya di Washington 50 tahun lalu.

Pesawat itu langsung menarik hati traveler karena kabin bertingkat dan menikmati inovasi tangga di dalamnya. Maskapai juga menyukai B747 dengan pelanggan awalnya adalah Pan Am dan Japan Airlines, sementara British Airways, Cathay Pacific dan Korean Air adalah operator dengan armada terbesar yang tersisa.

Airbus pada tahun 1970 awalnya berfokus pada pesawat bermesin ganda kemudian melebarkan sayap ke wilayah pesawat berbadan lebar yang menguntungkan yang telah didominasi oleh saingan Amerika-nya, Boeing selama beberapa dekade.

Bandara-bandara besar semakin ramai dan maskapai penerbangan memperjuangkan ruang terbangnya. Ada permintaan pesawat yang lebih besar dan dapat membawa lebih banyak penumpang dan meningkatkan konsumsi bahan bakar pada saat yang bersamaan.

A380 dikembangkan dengan biaya USD 25 miliar dengan taruhan sebuah pesawat mampu membawa lebih dari 800 orang. A380 melakukan penerbangan komersial pertama pada tahun 2007, lepas landas di krisis keuangan global. Salah momen...

Lalu lintas penumpang menurun tajam saat krisis itu terjadi. Pada tahun-tahun berikutnya, banyak masalah bandara yang kepenuhan. Lalu ada pertumbuhan eksplosif maskapai penerbangan regional berbiaya rendah seperti Ryanair. Kemudian, pesawat yang lebih kecil seperti Boeing 787 dan Airbus A320 banjir pesanan.

Meningkatnya biaya bahan bakar dan dorongan untuk mengurangi emisi karbon memberikan pukulan terakhir ke pesawat berbadan lebar. Hal itu dikarenakan pesawat ini membutuhkan 4 mesin untuk mengudara. Sejauh ini, Airbus hanya membuat 234 pesawat A380, kurang dari seperempat target 1.200 armada.

"Kami setidaknya 10 tahun atau mungkin lebih, terlambat dengan A380. Kami sedang (sekarang) membangun mesin yang sangat ekonomis yang dapat melakukan banyak pekerjaan kecuali membawa banyak orang," kata Enders.

Boeing masih membuat 777 dengan badan lebar. Sebuah pesawat yang hanya memiliki dua mesin dan Airbus akan terus membuat A350 dan A330 sebagai saingannya.

Emirates kini mati-matian mempertahankan layanan A380 dengan memesan dalam jumlah besar. Tapi maskapai ini akhirnya mengikuti Qantas Australia dengan membatalkan pesanan, dan membeli 70 pesawat yang lebih kecil dari Airbus, campuran model A330 dan A350 terbarunya.

Pesawat 747 secara luas diperkirakan akan menemui akhir nasib yang sama segera. Queen of the Skies atau Ratu Langit tak digunakan lagi atau jarang dioperasikan oleh maskapai besar di Amerika, dengan pengecualian hanya versi kargonya.









Majalah Analisaqq

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh compassandcamera. Diberdayakan oleh Blogger.